Monday, September 2, 2013

Sebuah Awal

Bintang, ya Mommy memanggilmu Bintang Nak...karena Mommy ingin kelak kau bersinar seperti Bintang di malam hari dan selalu menjadi kiasan sebuah keindahan.
Padahal Mommy juga tidak tahu kalau Bintang ini kelak berkelamin perempuan atau lelaki, akan tetapi panggilan Bintang sudah Mommy sematkan sebagai wujud syukur Mommy akan kehadiran Bintang. Iya, usia Bintang masih 8 minngu di rahim Mommy akan tetapi Mommy sudah sangat merindukan kehadiran Bintang dan menganggap Bintang sudah menjadi sebagian dari hari-hari Mommy dan Daddy Bintang.

Mommy kadang memandang wajah sendiri di kaca tanpa katra-kata, bukan, tentu saja bukan karena Mommy yang narsis dan terpesona dengan wajah Mommy sendiri lantas Mommy bilang "Kok, Mommy cantik sekali ya?" Tentu saja, bukan Nak..akan tetapi Mommy yang dulu sempat berpikir untuk tidak menikah ternyata sekarang telah mengandung seorang bayi dan itu kamu, Nak.

Dulu, Mommy hampir saja ingin membatalkan pernikahan dengan Daddy kamu karena Mommy merasa Daddy bukanlah orang yang tepat untuk dijadikan suami dan ayah dari anak-anak Mommy. Entahlah, keraguan semakin melanda seiring dengan acara pernikahan yang semakin dekat. Perbedaan adat dan budaya, mungkin itu yang menjadi salah satu masalah di antara kami.

Daddy kamu selalu berpikir, untuk sebuah niat baik apa iya harus serumit itu, akan tetapi di dalam keluarga Mommy anak perempuan adalah sebuah perhiasan bukan berarti anak lelaki tidak berharga, tentu saja bukan. Akan tetapi, di dalam keluarga Mommy seorang menghargai kita tinggi atau tidak dilihat bagaimana pernikahannya itu karena jika anggota keluarga Mommy lelaki yang menikahi anak gadis orang lain pun akan melakukan hal yang sama. Kalau pun tak ada uang juga diada-adakan demi berlangsungnya pernikahan anak mereka, dan mereka menganggap hal itu adalah nilai dan sebuah harga diri.

Lain di keluarga Daddy, mungkin juga karena saat itu keadaan Daddy memang sedang tidak ada sehingga cenderung semua biaya pernikahan Mommy yang banyak mengeluarkan uang dan tentu saja Mommy tak bercerita keseluruhan ke Ibunda Mommy karena jika tahu maka Ibunda Mommy akan bersedih dan berpikir "kenapa anak gadisnya malang sekali" oleh karenanya, terkadang Mommy sering tersinggung jika ada salah satu keluarga dari Daddy yang berbicara masalah uang ke Mommy cuma Mommy siam saja. Mereka tidak tahu, di adat Jawa normalnya lelaki mengeluarkan biaya paling banyak.

Sebenarnya Mommy tak mau menuntut lebih ke Daddy, karena Mommy tahu keadaan Daddy seperti apa oleh karenanya Mommy tak pernah mengeluhkan masalah uang terlebih sama keluarga. Mommy bekerja keras bukan buat Mommy sendiri tapi juga buat Nenek dan Kakek Bintang di kampung.

Mommy benar-benar putus asah saat itu, Nak...saat seminggu persis sebelum Mommy dan Daddy menikah Nenek harus masuk kamar operasi untuk mengangkat tumor ganas di rahimnya, rahim di mana Mommy dulu 9 bulan 10 hari di sana seperti Bintang sekarang. Mommy sempat menangis dan bilang tidak mau menikah jika sakit dari Ibunda Mommy saar itu ternyata disebabkan oleh Mommy. Akan tetapi, adik Mommy dan juga tante Mommy menenangkan dan menasehati kalau sakitnya Ibunda Mommy itu karena memang sudah waktunya sakit dan Mommy tak seharusnya menangis dan putus asah sedemikian rupa.

Mungkin Bintang berpikir, kenapa Mommy saat itu mau saja menikah dengan Daddy kalau bolak-balik ingin membatalkan pernikahan?

Jadi awalnya, Mommy dan Daddy kenal dari suara saja, berlanjut ke chatting di YM dan BBM (Blackberry Messanger). Kalah itu, profesi Mommy adalah seornag personal assistant dari boss yang memiliki karakter sangat unik. Mommy lebih suka menyebutnya unik karena karakter dia tidaklah umum. Orangnya sangat bawel dan jika merasa benar dia akan terus ngoto dan yang paling menonjol adalah seperti sifat boss kebanyakan tak mau kalah dan tak mau salah. Akan tetapi dia orangnya baik, khususnya sama Mommy. Bagaimana tidak, Nak? Selama ini dia dikenal pelit akan tetapi setiap ulang tahun Mommy dia membelikan bunga dan hadiah walau berupa uang ke Mommy. Ya, alhamdulillah bisa buat traktir teman-teman di kantor.

Berlanjut ke awal perkenalan Mommy dengan Daddy, jadi saat itu Daddy yang menangani kasus pemberian salah informasi ke Mommy oleh salah satu anak buahnya. Boss Mommy sudah sempat marah-marah ke Daddy dan Mommy juga kebagian peran untuk marah-marah ke Daddy. Tetapi, Daddy orangnya sangat sabar, bukannya marah dia malah godain Mommy. Dari situ perkenalan kami berlanjut, rasa suka sedikit pun tak ada di hati Mommy karen Mommy sedang menjalin hubungan dengan seorang pria. Bahkan Mommy cuek.

Akan tetapi, satu tahun berselang tiba-tiba kami ada contact kembali. Saat itu Mommy habis putus dengan salah satu pacar Mommy dan bahkan kami hampir menikah. Dia seorang warga Australia. Mommy putus dengannya karena Mommy merasa ada yang salah dengan pria yang sedang dekat dengan Mommy. Yang ada hanya rasa membutuhkan dia karena ingin memenuhi target dari Ibunda Mommy untuk menikah dan itu tak baik, Nak.

Setelah Mommy putus dengan pacar Mommy yang warga negara Australia, akhirnya Daddy berani mendekati lagi dan kami memutuskan bertemu. Lalu dalam suatu chatting dia mengatakan kalau ingin serius, dan Mommy menyambutnya dengan tangan terbuka karena saat itu Mommy sangat lelah dengan bergonta-ganti pacar. Namun, pada malam harinya Mommy sempat bercerita ke Ibunda Mommy di kampung lewat telephone, cerita kalau ada yang mendekati Mommy akan tetapi Mommy tak menyukai dia, apalagi saat itu Mommy pikir gajih seorang supervisor di Travel berapa? Tapi, Ibunda Mommy meyakinkan bahwasannya uang bisa dicari dan diusahakan asalkan dia mau bekerja keras. Mommy memang sangat matrealistis, akan tetapi yang membuat Mommy demikian adalah keadaan di mana Mommy harus memenuhi kebutuhan Mommy dan juga keluarga di kampung.

Malam itu Mommy mendapatkan banyak wejangan dari Ibunda Mommy dan akhirnya Mommy mulai membuka pintu hati Mommy untuk Daddy, walau pun Mommy masih sempat jalan dengan cowok yang lain akan tetapi dia yang menjadi prioritas Mommy.

Karena Daddy bilang serius, Mommy tantang Daddy untuk meminta sendiri secara langsung ke keluarga di kampung dan dia sanggup. Mommy masih ingat, hal itu terjadi di bulan Juni 2012 beberapa hari setelah ulang tahun Mommy dan Daddy datang melamar bersama keluarganya di bulan September 2012 akan tetapi karena di Bulan Maret Mommy habis ditinggalkan oleh kakek Mommy kami harus melangsungkan pernikahan di Bulan Maret 2013, tepatnya tanggal 5.

Di adat Jawa, kami tidak diperkenankan mengadakan pesta, membuka usaha jika salah satu keluarga habis meninggal. Dan kami harus menunggu pergantian tahun menurut hitungan mereka.

Bebarapa minggu sebelum pernikahan, Mommy sempat stress karena tak mampu membatalkan acara pernikahan itu. Sungguh, masa-masa itu adalah masa terberat Mommy karena merasa Daddy bukan orang yang perhatian dan terlalu cuek. Mommy biasa diperhatikan di keluarga maka akna menjadi neraka buat Mommy jika harus bersama orang yang tiak memiliki kepedulian. Akan tetapi, Daddy terus meyakinkan Mommy kalau dia akan berubah setelah menikah.

0 comments:

Post a Comment

 
;